SEKALI SWIPE LANGSUNG BERSIH

5 Alat Keselamatan Marine yang Sering Meremehkan Fungsinya Saat Darurat

5 Alat Keselamatan Marine yang Sering Meremehkan Fungsinya

Bekerja atau melakukan perjalanan di atas laut lepas selalu membawa risiko yang besar. Oleh karena itu, setiap kapal wajib menyediakan berbagai peralatan keselamatan maritim standar internasional. Meskipun demikian, kenyataan di lapangan menunjukkan hal yang cukup memprihatinkan. Banyak awak kapal atau penumpang yang menganggap remeh fungsi dari benda-benda penyelamat tersebut karena mereka merasa kondisi laut selalu aman.

Padahal, situasi darurat di tengah laut bisa terjadi dalam hitungan detik akibat cuaca buruk atau kegagalan mekanis. Ketika bencana melanda, alat-alat yang sering dianggap sebagai pajangan ini justru menjadi penentu antara hidup dan mati. Lantas, apa saja perlengkapan yang sering diabaikan tersebut?

BACA JUGA: Oil PVC Boom Alat Pengurung Tumpahan Minyak di Laut

Berikut adalah 5 alat keselamatan marine yang sering disepelekan, padahal memiliki fungsi yang sangat vital saat kondisi darurat.

1. Life Jacket (Jaket Keselamatan) yang Salah Ukuran atau Rusak

Semua orang pasti tahu bahwa life jacket adalah alat keselamatan marine yang paling mendasar. Namun, banyak orang yang meremehkan cara pemilihan dan perawatannya. Mereka sering kali asal mengambil jaket pelampung tanpa memeriksa ukuran yang pas atau kelayakan penguncinya.

Jika Anda menggunakan life jacket yang terlalu longgar, pelampung tersebut justru bisa terlepas saat Anda melompat ke air. Selain itu, pelampung yang tidak terawat sering kali kehilangan daya apungnya atau memiliki peluit yang sudah rusak. Oleh sebab itu, Anda wajib memastikan life jacket terpasang dengan erat dan semua ritsleting serta pengaitnya berfungsi dengan sempurna sebelum kapal berlayar.

2. Lifebuoy (Pelampung Cincin) Tanpa Tali atau Lampu yang Aktif

Peralatan keselamatan berikutnya yang sering menjadi korban kelalaian adalah lifebuoy atau pelampung berbentuk donat. Kru kapal biasanya hanya menggantung alat ini di dinding kapal sebagai pemenuh regulasi formal saja. Akibatnya, mereka jarang memeriksa apakah lampu otomatis (self-igniting light) dan tali penarik pada pelampung masih berfungsi dengan baik.

Padahal, pelampung ini menjadi senjata utama saat terjadi insiden Man Overboard (orang jatuh ke laut). Jika korban jatuh pada malam hari dan lampu pelampung mati, maka korban akan sangat sulit melihat posisi pelampung tersebut. Oleh karena itu, pemeriksaan baterai lampu dan kekuatan tali lifebuoy harus menjadi agenda rutin dalam perawatan kapal.

3. EPIRB (Emergency Position Indicating Radio Beacon)

Bagi sebagian kru kapal, EPIRB mungkin hanya terlihat seperti kotak elektronik kecil yang terpasang di dinding anjungan. Beberapa orang bahkan tidak tahu cara mengaktifkannya karena mengandalkan sistem komunikasi radio utama kapal. Padahal, EPIRB adalah alat keselamatan marine paling krusial ketika kapal mengalami kondisi tenggelam yang sangat cepat.

Saat kapal karam, alat ini akan mendeteksi tekanan air dan otomatis terlepas ke permukaan laut. Selanjutnya, EPIRB akan memancarkan sinyal satelit yang langsung terhubung ke tim SAR internasional untuk menunjukkan koordinat tepat kapal Anda. Jika baterai alat ini kedaluwarsa atau penempatannya salah, maka tim penyelamat tidak akan pernah menemukan lokasi Anda di tengah samudra yang luas.

4. Pyrotechnics (Suar dan Roket Parasut Flare)

Banyak pelaut yang meremehkan pyrotechnics seperti hand flare atau parachute rocket flare karena menganggapnya seperti kembang api biasa. Akibatnya, kotak penyimpanan suar ini sering kali diletakkan di tempat yang lembap sehingga memicu kerusakan pada sumbu ledaknya.

Saat sistem komunikasi digital kapal mati total, suar visual inilah yang menjadi satu-satunya harapan Anda untuk menarik perhatian kapal lain yang melintas. Menggunakan suar yang kedaluwarsa atau basah tentu sangat berbahaya karena alat tersebut bisa gagal meledak atau justru melukai tangan operatornya sendiri.

5. Immersion Suit (Baju Selam Pelindung Hipote-rmia)

Peralatan yang satu ini sering kali diabaikan oleh kapal-kapal yang berlayar di perairan tropis seperti Indonesia. Banyak orang berpikir bahwa immersion suit hanya berguna untuk pelayaran di daerah kutub yang membeku. Padahal, suhu air laut pada malam hari atau saat badai melanda bisa turun secara drastis dan memicu hipotermia yang mematikan.

Baju ini dirancang khusus untuk menjaga suhu tubuh manusia tetap hangat selama berjam-jam di dalam air dingin. Jadi, jika Anda mengabaikan ketersediaan atau tidak melatih cara menggunakan baju ini dengan cepat, risiko fatal akibat kedinginan ekstrem akan meningkat secara drastis.

Kesimpulan

Bencana di laut tidak pernah memilih waktu dan tempat untuk menyerang. Oleh karena itu, mengubah pola pikir terhadap fungsi alat keselamatan marine adalah langkah awal yang paling bijak. Mulai sekarang, jangan pernah memandang peralatan tersebut sebagai beban visual atau sekadar formalitas pemeriksaan syahbandar. Sediakan waktu untuk merawat, memeriksa tanggal kedaluwarsa, dan mempelajari cara menggunakannya secara benar. Pada akhirnya, persiapan yang matang di darat akan menyelamatkan nyawa Anda di tengah ganasnya lautan.

Keranjang belanja

Tidak ada produk di keranjang.

Kembali ke toko
×